Penertiban Puncak Berjalan, Persoalan Sampah dan Tarif Parkir Masih Mengintai
Penataan kawasan Puncak Bogor-Cianjur mulai terlihat setelah penertiban PKL dan bangunan liar. Fenomena kucing-kucingan dan relokasi pedagang jadi sorotan.
Lensakabar.com, Bogor - Wajah kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor hingga Cianjur, mulai memperlihatkan perubahan setelah penertiban pedagang kaki lima (PKL) dan pembongkaran bangunan yang menggunakan area tidak semestinya. Sejumlah titik yang sebelumnya dipenuhi lapak pedagang kini terlihat lebih lengang, sementara beberapa area yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas perdagangan mulai ditata kembali.
Perubahan tersebut terlihat dalam pemantauan awal November 2026 di sepanjang Jalan Raya Puncak pada hari kerja. Di sejumlah lokasi, aktivitas PKL tidak sebanyak kondisi yang terlihat dalam pemantauan sebelumnya. Namun, belum dapat dipastikan apakah berkurangnya pedagang sepenuhnya merupakan dampak penertiban atau karena aktivitas perdagangan pada hari kerja memang lebih rendah dibandingkan akhir pekan.
Penataan kawasan Puncak juga terlihat melalui pembongkaran bangunan liar, pembatasan area berjualan, hingga perubahan akses parkir di sejumlah titik. Kondisi ini memperlihatkan upaya mengembalikan fungsi kawasan wisata yang selama ini menghadapi persoalan penggunaan ruang di sepanjang jalan utama.
Lapak Hilang, tapi PR Sampah dan Parkir "Ngelunjak" Belum Usai
Meski sejumlah lokasi terlihat lebih bersih, persoalan sampah masih ditemukan di sekitar lapak pedagang. Sampah terlihat menumpuk di belakang beberapa tempat berjualan yang berada di sepanjang jalan raya.
Persoalan tersebut menjadi salah satu alasan munculnya dukungan terhadap penataan PKL. Selain mengganggu kebersihan lingkungan, penggunaan bahu jalan untuk berjualan dan aktivitas parkir yang tidak tertata juga berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
Tarif parkir juga turut menjadi perhatian. Rafly, seorang pengunjung yang melintas, terang-terangan menyentil tarif parkir yang dirasa memberatkan. "Bayar parkirnya enggak ngotak juga, kita parkir sejam bayar Rp5.000. Bukan tentang masalah ini tempat wisatanya ya," keluhnya. Bagi pelancong, persoalan restribusi liar ini kerap mencoreng kenyamanan berwisata.
Di sisi lain, tidak seluruh pedagang dapat disamaratakan dalam persoalan kebersihan. Sampah yang ditemukan di sekitar lapak bisa berasal dari aktivitas pedagang maupun pengunjung. Karena itu, pengelolaan sampah dan pengawasan kawasan tetap diperlukan meskipun jumlah PKL sudah berkurang.
Baca juga: Kondisi Jalan Sapan Bandung Sudah Cantik, Tapi Penyakit Lama Belum Hilang
Fenomena Kucing-kucingan, Lapak Disembunyikan di Balik Semak
Di balik berkurangnya jumlah PKL yang terlihat, muncul fenomena yang menarik perhatian, yakni dugaan praktik kucing-kucingan dalam aktivitas berjualan. Sejumlah perlengkapan lapak ditemukan tersimpan di balik semak-semak dan pinggir jalan, meskipun area tersebut terlihat tidak sedang digunakan untuk berdagang.
Kondisi itu menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan penertiban. Apakah pedagang benar-benar sudah meninggalkan lokasi yang dilarang, atau hanya menyembunyikan perlengkapan jualan dan menunggu waktu yang dianggap memungkinkan untuk kembali beroperasi?
Temuan tersebut belum cukup untuk memastikan adanya upaya sengaja menghindari petugas. Namun, keberadaan perlengkapan lapak yang masih disimpan di sekitar lokasi menunjukkan bahwa pengawasan setelah pembongkaran tetap diperlukan.
Fenomena kucing-kucingan juga menjadi tantangan dalam mengukur keberhasilan penataan. Kawasan yang terlihat bersih pada hari kerja belum tentu memiliki kondisi serupa ketika akhir pekan atau musim liburan, saat jumlah wisatawan dan aktivitas perdagangan meningkat.
Jika penertiban hanya berfokus pada pembongkaran tanpa pengawasan berkelanjutan, lapak berpotensi kembali muncul di lokasi yang sama atau berpindah ke titik lain. Karena itu, keberhasilan penataan perlu dilihat dari konsistensi kondisi kawasan, bukan sekadar perubahan sesaat setelah operasi penertiban.
Relokasi Pedagang Antara Pilihan Tertib atau Bertahan Hidup di Atas Roda
Persoalan relokasi menjadi bagian penting dalam penataan kawasan Puncak. Pedagang yang terdampak pembongkaran bangunan liar disebut telah disediakan tempat berjualan di Rest Area Gunung Mas.
Lokasi tersebut disiapkan sebagai tempat relokasi bagi pedagang yang sebelumnya menggunakan area di sepanjang kawasan Puncak. Namun, tidak semua pedagang memilih berjualan di lokasi relokasi. Sebagian di antaranya terlihat menggunakan kendaraan sebagai tempat berjualan.
Selain penyediaan lokasi, terdapat informasi mengenai pemberian kompensasi sebesar Rp1 juta kepada pedagang yang terdampak pembongkaran di kawasan Ciloto. Kompensasi tersebut disebut diberikan oleh pemerintah daerah dalam rangka penertiban.
Keberadaan tempat relokasi menjadi salah satu aspek penting dalam kebijakan penataan kawasan wisata. Sebab, perubahan fungsi ruang publik juga berkaitan dengan keberlanjutan mata pencaharian pedagang yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata Puncak.
Puncak Pass dan Perbatasan Bogor-Cianjur Mulai Ditata
Perubahan juga terlihat di kawasan Puncak Pass. Area yang sebelumnya digunakan untuk parkir sepeda motor kini telah ditutup menggunakan beton sehingga kendaraan tidak lagi dapat masuk ke bagian tersebut.
Sejumlah titik lain yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas perdagangan juga terlihat lebih tertata. Bergerak ke tapal batas Kabupaten Bogor dan Cianjur, lanskap jalan turut berubah dengan munculnya tiang-tiang pancang baru. Meski warga menduga ini bakal dijadikan pos pantau permanen, wujud akhir fasilitas tersebut hingga kini masih menyimpan tanda tanya.
Sementara itu, di beberapa titik wilayah Cianjur, bekas bangunan yang sebelumnya dibongkar juga terlihat sudah tidak berdiri. Kawasan Ciloto yang menjadi salah satu lokasi penertiban turut memperlihatkan berkurangnya aktivitas lapak liar.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari penataan kawasan wisata Puncak yang selama ini menghadapi persoalan bangunan liar, penggunaan bahu jalan, parkir, dan kebersihan lingkungan.
Pada akhirnya, perubahan Puncak pada hari-hari biasa ini barulah babak pembuka. Ujian sesungguhnya baru akan datang saat akhir pekan dan musim liburan panjang menguji konsistensi para pengawas di lapangan. Tanpa pengawasan berkala dan solusi jangka panjang bagi pedagang, bukan tidak mungkin pemandangan "kucing-kucingan" ini hanya menjadi siklus musiman belaka.
Baca juga: Jadi Dirjen Ketenagalistrikan Arsyadany Dihadapkan Pada Tantangan Besar
0 Komentar