Raksasa Migas Rokan Simpan 11 Miliar Barel, Cuma Sumbang 2 Persen Kebutuhan?
Potensi migas non-konvensional Blok Rokan 11,3 miliar barel menargetkan produksi puncak 39.000 barel per hari pada 2037 untuk memenuhi pasokan domestik.
Lensakabar.com, Jakarta - Potensi minyak dan gas bumi non-konvensional di Wilayah Kerja (WK) Rokan, Riau, mencapai 11,3 miliar barel. Namun, besarnya sumber daya yang tersimpan di bawah tanah tersebut memiliki ukuran yang berbeda ketika dibandingkan dengan kemampuan produksi dan kebutuhan minyak di Indonesia setiap hari.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat potensi minyak di tempat (oil in place) pada formasi Pematang Brownshale, North Aman Trough, mencapai 11,3 miliar barel. Dari jumlah tersebut, estimasi sumber daya yang dapat dipulihkan (recoverable resources) dalam kategori 2C dengan tingkat keyakinan P50 mencapai sekitar 724 juta barel setara minyak.
Perbedaan kedua angka itu menjadi penting untuk memahami seberapa besar potensi Rokan dapat berkontribusi terhadap pasokan energi nasional. Minyak yang diperkirakan berada di dalam formasi tidak seluruhnya dapat diangkat ke permukaan melalui kegiatan produksi.
Pemerintah memperkirakan pengembangan awal migas non-konvensional (MNK) Rokan dapat mencapai produksi puncak sebanyak 39.000 barel minyak per hari pada tahun 2037. Proyek ini ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2028.
Seberapa Signifikan Kontribusi MNK Rokan Lawan Impor?
Kebutuhan minyak Indonesia masih jauh lebih besar dibandingkan dengan proyeksi produksi puncak MNK Rokan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut konsumsi minyak nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi domestik berada di kisaran 600.000–650.000 barel per hari. Pemerintah juga memperkirakan Indonesia masih mengimpor sekitar 700.000–750.000 barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan energi nasional, dengan memperhitungkan kontribusi program biodiesel terhadap pasokan bahan bakar.
Jika dibandingkan dengan kebutuhan minyak Indonesia sebesar 1,6 juta barel per hari, proyeksi produksi puncak dari MNK Rokan sebesar 39.000 barel per hari setara sekitar 2,4 persen dari kebutuhan tersebut.
Perhitungan itu memberikan gambaran mengenai skala kontribusi yang diproyeksikan dari satu proyek pengembangan migas non-konvensional. Rokan berpotensi menambah pasokan domestik, tetapi volume produksinya tetap perlu ditempatkan dalam konteks kebutuhan nasional yang jauh lebih besar.
Perbandingan ini tentu bersifat apple-to-orange secara statistik satu sisi menghitung konsumsi harian nasional, sisi lain memproyeksikan kapasitas produksi spesifik sebuah proyek masa depan. Namun, perbandingan ini penting untuk meletakkan ekspektasi pada porsi yang proporsional.
Baca juga: Prabowo Guyur Rp400 T di 2027, Mampukah Tumpas Rentenir & Pinjol Ilegal?
Dari 11,3 Miliar Barel Menjadi Target Produksi
Pengembangan MNK Rokan tidak hanya bergantung pada besarnya sumber daya yang teridentifikasi. Pemerintah juga harus mendorong tahapan teknis agar potensi tersebut dapat dikonfirmasi dan diproduksikan secara komersial.
Berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM pada September 2026, pengembangan awal MNK Rokan dirancang melalui pengeboran kumulatif 425 sumur. Program tersebut menargetkan pemulihan sekitar 201 juta barel minyak dan 191 miliar kaki kubik gas selama masa kontrak.
Pemerintah menargetkan pengeboran sumur appraisal dipercepat pada akhir 2026. Tahapan ini diperlukan untuk mengevaluasi karakteristik formasi serta memperkuat dasar teknis pengembangan lapangan.
Karakteristik migas non-konvensional berbeda dari pengembangan lapangan minyak konvensional. Pada formasi batuan tertentu, hidrokarbon membutuhkan teknik stimulasi, termasuk perekahan hidraulik, agar dapat mengalir menuju sumur produksi.
Kebutuhan teknologi, investasi, dan pengeboran dalam jumlah besar menjadi bagian dari tantangan pengembangan. Karena itu, estimasi sumber daya yang dapat dipulihkan tetap perlu dibedakan dari produksi aktual yang nantinya dihasilkan lapangan.
Baca juga: Sentilan Bahlil: Indonesia Resmi Sunat Ekspor Gas ke Singapura
Ekosistem Pengeboran Menentukan Efisiensi Biaya
Pengembangan potensi migas Pertamina di Sumatra tidak hanya bertumpu pada besarnya sumber daya yang ditemukan, tetapi juga pada kesiapan teknologi, penyedia jasa, dan biaya operasional. Selain potensi minyak di tempat sebesar 11,3 miliar barel di Blok Rokan, Pertamina juga mengembangkan temuan besar di Padang Pancuran, Wilayah Kerja Jambi Merang, yang diperkirakan memiliki potensi hingga 1,4 miliar barel.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menyebut pengembangan migas non-konvensional di Rokan membutuhkan ekosistem penyedia jasa yang memadai. Pertamina membutuhkan keterlibatan sekitar 50 vendor untuk membantu menekan biaya per sumur.
“Itu potensinya besar sekali, lebih dari 11 miliar barel. Tetapi tentu butuh ekosistem seperti di Permian Basin di Texas, di mana kami punya vendor yang banyak, ada 50 vendor, sehingga biaya produksi per sumurnya itu bisa berkurang,” ujar Oki di sela-sela agenda 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (27/10/2026).
Pernyataan tersebut menempatkan ketersediaan vendor sebagai salah satu kebutuhan dalam pengembangan MNK. Pertamina merujuk Permian Basin di Texas, Amerika Serikat, yang memiliki ekosistem penyedia jasa untuk mendukung kegiatan pengeboran dan produksi.
Kebutuhan tersebut berkaitan dengan karakter pengembangan migas non-konvensional yang memerlukan pengeboran intensif dan teknologi khusus. Perencanaan biaya, ketersediaan peralatan, serta kesinambungan layanan operasional menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek.
Dengan potensi migas yang tersebar di sejumlah wilayah, tantangan pengembangan Pertamina tidak berhenti pada identifikasi sumber daya. Kemampuan mengembangkan lapangan secara teknis dan ekonomis turut menentukan seberapa jauh potensi tersebut dapat dikonversi menjadi tambahan produksi minyak dan gas bagi Indonesia.
Menguji Dampak Nyata Rokan di Tengah Gap Impor
Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi minyak domestik untuk memperkecil kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan dalam negeri. Dalam kondisi kebutuhan sekitar 1,6 juta barel per hari dan produksi domestik sekitar 600.000–650.000 barel per hari, selisih aritmetis keduanya mencapai sekitar 950.000 hingga 1 juta barel per hari.
Proyeksi produksi puncak Rokan sebesar 39.000 barel per hari setara sekitar 3,9–4,1 persen dari selisih tersebut. Angka ini menggambarkan skala kontribusi potensial proyek terhadap kesenjangan antara kebutuhan dan produksi domestik, bukan proyeksi langsung pengurangan impor.
Besarnya dampak terhadap impor nantinya juga bergantung pada realisasi produksi, kebutuhan konsumsi, perkembangan produksi dari lapangan lain, serta komposisi pasokan energi nasional.
Pengembangan MNK Rokan menjadi salah satu upaya untuk menambah sumber produksi minyak dalam negeri. Dengan target mulai beroperasi pada 2028 dan produksi puncak yang diperkirakan tercapai pada 2037, kontribusi proyek ini terhadap pasokan nasional akan ditentukan oleh keberhasilan pelaksanaan tahapan pengembangan dan pencapaian target produksinya.
0 Komentar