Lensakabar.com, Semarang - Penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) mulai mengubah cara petani di Jawa Tengah mengelola pekerjaan di sawah. Proses panen yang sebelumnya membutuhkan puluhan tenaga kerja dan waktu hingga sehari, kini dapat diselesaikan dalam hitungan jam menggunakan mesin pemanen padi atau combine harvester.

Manfaat tersebut dirasakan Sutirto, petani dari Kelompok Tani Sri Berkah, Kabupaten Pemalang. Ia mengaku penggunaan combine harvester membuat pekerjaan panen jauh lebih cepat sekaligus menghasilkan gabah yang lebih bersih dibandingkan metode konvensional.

"Kalau menggunakan combine harvester, satu hektare bisa selesai sekitar satu setengah sampai dua jam," ujar Sutirto.

Perbedaan waktu itu cukup signifikan jika dibandingkan dengan panen manual. Menurut Sutirto, pengerjaan panen secara konvensional membutuhkan sekitar 30–40 orang untuk menyelesaikan dua pertiga hektare lahan dalam satu hari.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana mekanisasi dapat membantu petani menghadapi persoalan kebutuhan tenaga kerja saat musim panen. Selain memangkas waktu pengerjaan, penggunaan mesin juga berpotensi mengurangi beban biaya operasional yang selama ini harus dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja.

Bagi petani, kecepatan panen bukan sekadar persoalan praktis. Waktu pengerjaan yang lebih singkat dapat membantu mempercepat pergantian tahapan pekerjaan di lahan, sehingga pengelolaan musim tanam menjadi lebih efisien.

Dorong Mekanisasi, Pemprov Jateng Salurkan 1.507 Alsintan ke 32 Daerah

Kisah Sutirto merupakan satu dari sekian banyak bukti efisiensi mekanisasi sawah. Pengalaman inilah yang ingin direplikasi Pemprov Jawa Tengah secara lebih luas.

Sepanjang 2026, Pemprov Jateng mengalokasikan 1.507 unit alat dan mesin pertanian untuk kelompok tani di 32 kabupaten/kota. Distribusi tersebut diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan, mulai dari pengolahan tanah, penanaman, pengairan, pemeliharaan tanaman, hingga panen.

Bagi kelompok tani penerima, keberadaan alat tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual yang semakin sulit diperoleh di sejumlah wilayah. Biaya pengerjaan lahan juga diharapkan lebih terkendali karena sebagian pekerjaan dapat dilakukan menggunakan mesin.

Perwakilan kelompok tani di Jawa Tengah, termasuk dari jaringan Tani Merdeka, menyampaikan komitmen untuk mengawal pengadaan dan mendampingi kelompok tani agar bantuan 1.507 unit alsintan dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Mereka berharap mekanisasi mampu mempercepat pengolahan lahan sekaligus menekan pengeluaran operasional petani.

Baca juga: 33 Negara Panik Krisis Pangan, Indonesia Adem Ayem dengan 25 Juta Ton Beras

Rincian 9 Jenis Alsintan Bantuan Pemprov Jateng dan Fungsinya

Bantuan alsintan yang disalurkan Pemprov Jawa Tengah mencakup sembilan jenis peralatan untuk mendukung berbagai tahapan pekerjaan pertanian. Rinciannya meliputi 100 unit rice transplanter untuk penanaman padi, 10 unit combine harvester untuk panen, 30 unit traktor roda empat dan 80 unit hand tractor singkal untuk pengolahan tanah.

Selain itu, terdapat 74 unit kultivator untuk menggemburkan tanah, 80 unit traktor crawler untuk mengolah lahan, 100 unit pompa air diesel untuk pengairan, 28 unit alat pencacah pupuk organik untuk mengolah bahan kompos, serta 1.005 unit handsprayer elektrik untuk penyemprotan tanaman.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan bahwa setiap jenis peralatan memiliki fungsi berbeda sesuai kebutuhan kegiatan pertanian.

Berikut fungsi masing-masing alat tersebut:

1. Rice Transplanter

Rice transplanter merupakan mesin untuk menanam bibit padi ke lahan sawah. Mesin ini membantu memindahkan bibit dari persemaian ke area tanam dengan jarak dan barisan yang lebih teratur.

Penggunaannya dapat mempercepat proses penanaman dibandingkan menanam bibit satu per satu secara manual.

2. Combine Harvester

Combine harvester merupakan mesin pemanen padi yang menggabungkan beberapa pekerjaan sekaligus, mulai dari memotong batang padi, merontokkan gabah dari tangkainya, hingga memisahkan gabah dari sebagian kotoran dan sisa tanaman.

Mesin ini membantu mempercepat panen dan mengurangi kebutuhan tenaga kerja dalam jumlah besar. Pengalaman Sutirto di Pemalang menjadi gambaran manfaat penggunaan alat tersebut.

3. Traktor Roda Empat

Traktor roda empat digunakan untuk mengolah lahan pertanian, terutama pada area yang membutuhkan tenaga mesin lebih besar.

Alat ini membantu pekerjaan membajak dan menyiapkan tanah sebelum penanaman. Dengan tenaga dan kapasitas kerja yang lebih besar, pengolahan lahan dapat dilakukan lebih cepat.

4. Hand Tractor Singkal

Hand tractor atau traktor tangan merupakan mesin pengolah tanah yang dikendalikan operator dengan berjalan di belakangnya.

Alat ini digunakan untuk membajak dan membalik tanah sawah sebelum ditanami. Komponen singkal pada traktor tangan ini bertugas membalik tanah sawah agar gembur dan siap ditanami.

5. Kultivator

Kultivator digunakan untuk menggemburkan tanah dan mengolah permukaan lahan, terutama pada area pertanian yang membutuhkan pengolahan lebih ringan.

Alat ini juga dapat membantu membersihkan gulma atau rumput di antara tanaman, bergantung pada jenis mata pisau dan perlengkapan yang digunakan.

6. Traktor Crawler

Traktor crawler merupakan traktor yang menggunakan roda rantai atau track, bukan ban seperti traktor pada umumnya.

Desain tersebut membuat beban mesin tersebar lebih luas pada permukaan tanah. Karena itu, traktor jenis ini dapat membantu pengolahan lahan dengan kondisi tanah tertentu, termasuk area yang lunak atau berlumpur.

7. Pompa Air Diesel

Pompa air diesel digunakan untuk memindahkan air dari sumber seperti sungai, saluran irigasi, atau sumber air lainnya menuju lahan pertanian.

Keberadaan pompa membantu petani mengairi sawah ketika pasokan air melalui saluran irigasi tidak mencukupi atau membutuhkan tambahan distribusi air.

8. Alat Pencacah Pupuk Organik

Mesin pencacah pupuk organik berfungsi memotong dan memperkecil ukuran bahan organik seperti jerami, rumput, serta sisa tanaman.

Bahan tersebut dapat dipersiapkan untuk proses pengomposan menjadi pupuk organik. Ukuran bahan yang lebih kecil membantu proses penguraian berlangsung lebih mudah.

9. Handsprayer Elektrik

Handsprayer elektrik merupakan alat penyemprot tanaman yang menggunakan tenaga baterai untuk menggerakkan pompa.

Alat ini digunakan untuk menyemprotkan cairan pupuk maupun pestisida sesuai kebutuhan budidaya. Pengoperasiannya tidak membutuhkan pemompaan manual secara terus-menerus seperti sprayer konvensional.

Dengan jumlah mencapai 1.005 unit, handsprayer elektrik menjadi jenis bantuan dengan alokasi terbanyak dibandingkan peralatan lainnya.

Tantangan Menjaga Alsintan Tetap Awet dan Tepat Sasaran

Distribusi alsintan ini tentu bukan sekadar soal membagikan alat, melainkan langkah strategis mempertahankan Jawa Tengah sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional. Sepanjang 2025 lalu, produksi gabah di wilayah ini tercatat mencapai 11,5 juta ton atau berkontribusi sekitar 16,5 persen terhadap total produksi pangan nasional, sementara akumulasi hingga awal November 2026 ini sudah menyentuh angka 8,5 juta ton.

Kendati demikian, efektivitas bantuan tidak hanya bergantung pada jumlah mesin yang disalurkan. Ketersediaan operator, pengaturan jadwal bergilir antar kelompok tani, perawatan rutin, hingga kesesuaian alat dengan kontur lahan menjadi penentu utama di lapangan.

Saat memantau langsung Parade Alat dan Mesin Pertanian di Lapangan Tarubudoyo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (3/11/2026), Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa langkah modernisasi ini sudah menjadi keharusan.

"Modernisasi alat pertanian ini tidak hanya menjadi pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan," ujar Luthfi di hadapan para petani dan perwakilan kelompok tani. Ia juga berpesan agar pemda dan kelompok tani benar-benar merawat aset tersebut secara bersama-sama, sehingga manfaatnya bisa dirasakan merata, bukan hanya oleh segelintir anggota.

Pada akhirnya, bagi para petani di sawah, ukuran keberhasilan program ini sangat sederhana dan kasat mata: waktu panen yang jauh lebih singkat, beban tenaga kerja yang lebih terkendali, serta denyut produksi pangan yang kian efisien dari musim ke musim.