Lensakabar.com, Bandung - Apa jadinya ketika angka penayangan lebih dihargai daripada kualitas karya, sementara batas kepatutan perlahan dianggap sebagai hambatan untuk menjadi viral? Pertanyaan ini semakin relevan ketika ruang digital dipenuhi konten yang sengaja mengundang perhatian melalui sensualitas, cerita perselingkuhan, hingga adegan yang memancing kontroversi.

Media sosial pada awalnya membuka ruang luas bagi siapa pun untuk berkarya, berbagi pengetahuan, dan membangun audiens. Seseorang tidak harus memiliki studio profesional atau peralatan mahal untuk menghasilkan video yang ditonton banyak orang. Dengan telepon genggam dan kreativitas, siapa pun bisa menjadi kreator.

Namun, kemudahan tersebut juga melahirkan persaingan yang semakin ketat. Ketika jutaan konten berlomba-lomba merebut perhatian, sebagian kreator memilih jalan yang dianggap lebih cepat mendatangkan penayangan dengan membuat sesuatu yang mengejutkan, mengundang rasa penasaran, atau sengaja memancing reaksi penonton.

Persoalan muncul ketika strategi tersebut mengorbankan kepatutan, empati, dan tanggung jawab sosial. Konten tidak lagi semata-mata dibuat untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga untuk mempertahankan perhatian dengan cara apa pun.

Dalam penelusuran di TikTok dan Facebook pada akhir Oktober 2026, ditemukan beragam tayangan yang memperlihatkan fenomena tersebut. Hasil penelusuran menggunakan kata kunci tertentu, mulai dari “seksi” hingga “selingkuh” dan “istri teman”, langsung membuka kotak Pandora berupa ribuan konten bernuansa eksploitatif

Sebagian tayangan masih berupa konten penampilan atau busana yang relatif terbuka dan ketat. Namun, ditemukan pula video dengan gerakan erotis serta cerita yang menjadikan perselingkuhan dan hubungan terlarang sebagai daya tarik utama.

Sejumlah konten menggunakan alur cerita tentang seseorang yang mudah tergoda melakukan hubungan terlarang dengan alasan sederhana, seperti persoalan uang atau kurangnya perhatian dari pasangan. Meski tidak selalu menampilkan adegan vulgar secara eksplisit, bahasa, karakter, dan jalan cerita yang digunakan dapat mengarahkan penonton pada fantasi seksual atau menjadikan perselingkuhan seolah-olah persoalan sepele.

Sebagian video bahkan memperlihatkan gaya akting yang kaku dan produksi sederhana. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata kualitas teknis, melainkan pilihan narasi yang digunakan untuk memperoleh perhatian.

Di sinilah batas antara kreativitas dan eksploitasi mulai dipertanyakan.

Ketika Konten Tidak Vulgar, tetapi Pesannya Bermasalah

Menilai kepatutan sebuah konten tidak cukup hanya dengan melihat apakah terdapat ketelanjangan atau adegan seksual yang eksplisit. Bahasa, alur cerita, karakter, dan konteks penyajian juga menentukan pesan yang diterima penonton.

Sebuah video dapat terlihat relatif aman secara visual, tetapi tetap membawa narasi yang merendahkan martabat seseorang, menormalisasi perselingkuhan, atau menjadikan hubungan terlarang sebagai hiburan yang ringan.

Persoalan ini menjadi lebih rumit ketika kreator membela karyanya dengan alasan edukasi atau hiburan. Klaim mengenai tujuan sebuah konten seharusnya dapat dinilai dari isi, konteks, dan cara penyampaiannya, bukan hanya dari label yang diberikan pembuatnya.

Baca juga: Menuju Punah! Saat AI Rangkum Segalanya, Mau Jadi Apa Blogger & Publisher?

Dalam penelusuran tersebut, tidak selalu ditemukan penjelasan yang menempatkan tayangan sebagai materi edukasi. Sebaliknya, sebagian konten justru menggunakan penanda hiburan atau membangun cerita yang mengarah pada fantasi.

Hal ini memperlihatkan bahwa persoalan kepatutan tidak selalu berada pada apa yang tampak di layar. Pesan yang dibangun melalui cerita juga dapat memengaruhi cara penonton memandang hubungan, kesetiaan, dan perilaku sosial.

Kreativitas tentu tidak harus dibatasi hanya pada tema yang serius atau formal. Komedi, drama, dan hiburan tetap memiliki ruang luas untuk berkembang. Namun, kebebasan berkarya juga menuntut kesadaran bahwa setiap pilihan cerita membawa pesan, baik disengaja maupun tidak.

Ketika perselingkuhan terus-menerus dijadikan bahan sensasi, misalnya, hubungan antarmanusia berisiko direduksi menjadi alat untuk memancing rasa penasaran. Penonton diajak mengikuti konflik bukan untuk memahami persoalan, melainkan untuk menunggu bagian yang paling kontroversial.

Jika pola seperti ini terus berulang, ruang digital dapat semakin dipenuhi konten yang mengejar reaksi sesaat tanpa memberikan nilai yang berarti.

Algoritma, Monetisasi, dan Perburuan Perhatian

Di balik maraknya konten sensasional terdapat persaingan dalam ekonomi perhatian atau attention economy. Dalam lingkungan ini, perhatian pengguna menjadi sesuatu yang diperebutkan karena dapat membuka peluang monetisasi, penawaran iklan, kerja sama merek, hingga hadiah saat siaran langsung.

Bagi kreator, jumlah penayangan dapat dipandang sebagai indikator keberhasilan. Semakin banyak orang menonton, semakin besar peluang konten dikenal dan menjangkau audiens yang lebih luas. Akan tetapi, ketika angka menjadi tujuan utama, kualitas dan tanggung jawab dapat tersisih.

Ada beberapa alasan yang membuat sebagian kreator memilih pendekatan sensasional.

Pertama, keinginan untuk cepat viral: Konten yang mengundang rasa penasaran atau kontroversi dianggap dapat menarik perhatian dalam waktu singkat.

Kedua, harapan memperoleh penghasilan: Penayangan yang tinggi dapat membuka peluang monetisasi, endorsement, atau hadiah dari penonton ketika melakukan siaran langsung.

Ketiga, tekanan algoritma: Kreator dapat merasa perlu mengikuti pola konten yang sedang menarik perhatian audiens agar tidak kalah bersaing.

Keempat, krisis identitas konten: Kreator yang ingin menghasilkan karya edukatif atau berkualitas dapat menghadapi dilema ketika konten tersebut dianggap kalah menarik dibandingkan tayangan sensasional.

Tekanan finansial juga dapat memperkuat kecenderungan tersebut. Harapan memperoleh pendapatan besar dalam waktu singkat membuat sebagian orang melihat popularitas sebagai jalan pintas menuju kesuksesan.

Baca juga: Jakarta Dikepung 61 Titik Demo, Nalar Penguasa Sedang Diuji di Jalanan

Penonton Hanya Menunggu Sensasi Berikutnya

Konten tidak akan memiliki jangkauan luas tanpa perhatian penonton. Karena itu, pembicaraan mengenai kualitas ruang digital tidak dapat berhenti pada perilaku kreator dan kebijakan platform.

Masyarakat juga memiliki peran dalam menentukan jenis konten yang memperoleh panggung.

Ketika tayangan yang merendahkan martabat manusia terus ditonton, dibagikan, dan dijadikan bahan perbincangan, perhatian publik dapat berubah menjadi modal bagi pembuatnya. Bahkan kecaman terhadap sebuah konten terkadang justru memperluas penyebarannya apabila dilakukan dengan cara membagikan ulang video tersebut tanpa pertimbangan.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kepekaan moral masyarakat. Apakah kita masih menilai sebuah tayangan berdasarkan dampak dan pesannya, atau mulai terbiasa menganggap semuanya sebagai hiburan selama mampu membuat orang tertawa, terkejut, atau penasaran?

Paparan berulang terhadap konten yang mengabaikan kepatutan juga berpotensi mengubah persepsi seseorang. Hal yang semula dianggap tidak pantas dapat terasa biasa ketika terus muncul dalam konsumsi sehari-hari.

Proses tersebut dapat dipahami sebagai desensitisasi, yakni berkurangnya respons terhadap rangsangan yang sebelumnya dianggap mengganggu setelah seseorang berulang kali terpapar. Namun, dampaknya tidak sama pada setiap orang dan tidak berarti setiap penonton otomatis kehilangan kepekaan moral.

Persoalan yang lebih mendasar adalah ketika kebiasaan menonton membuat seseorang berhenti mempertanyakan pesan di balik hiburan. Konten perselingkuhan, misalnya, dapat dikonsumsi semata-mata sebagai drama, tanpa memperhatikan bagaimana cerita tersebut menggambarkan komitmen, kepercayaan, dan hubungan antarmanusia.

Dampak Psikologis Tidak Berhenti pada Anak dan Remaja

Paparan konten sensasional perlu dilihat sebagai persoalan yang dapat menyentuh berbagai kelompok usia, meskipun bentuk dan dampaknya berbeda.

Pada anak-anak, konten yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan mereka dapat menimbulkan kebingungan mengenai batas perilaku yang pantas, hubungan antarmanusia, dan cara memperlakukan orang lain. Anak belum tentu mampu membedakan cerita fiksi, promosi, dan gambaran hubungan yang sehat secara mandiri.

Risiko tersebut semakin besar ketika anak menggunakan telepon genggam milik orang tua atau anggota keluarga tanpa pendampingan. Perangkat yang diberikan agar anak tenang dapat membuka akses ke berbagai jenis tayangan yang tidak selalu sesuai dengan usianya.

Pada remaja, tekanan untuk diterima dan memperoleh pengakuan sosial dapat membuat angka penayangan, komentar, dan jumlah pengikut terasa sangat penting. Jika popularitas dijadikan ukuran utama nilai diri, sebagian remaja dapat terdorong meniru perilaku sensasional demi memperoleh perhatian.

Paparan konten yang terus menekankan penampilan fisik atau sensualitas juga dapat memengaruhi cara sebagian remaja menilai tubuh dan harga dirinya. Mereka berisiko membandingkan diri dengan standar yang ditampilkan di layar atau menganggap perhatian orang lain sebagai ukuran keberhasilan pribadi.

Pada orang dewasa, konsumsi konten yang berlebihan dapat menyita waktu, mengganggu konsentrasi, dan mengurangi kesempatan untuk beristirahat atau berinteraksi secara langsung dengan keluarga. Konten yang memicu emosi kuat juga dapat membuat seseorang terbawa suasana, mulai dari rasa marah hingga kecemasan.

Dalam hubungan sosial, paparan berulang terhadap cerita yang menormalisasi manipulasi atau perselingkuhan berpotensi memengaruhi persepsi sebagian penonton terhadap relasi. Namun, pengaruh tersebut tidak bersifat otomatis karena pengalaman, nilai pribadi, dan lingkungan seseorang turut membentuk cara ia menafsirkan konten.

Baca juga: Sisi Gelap Algoritma Medsos: Niat Cari Klarifikasi Malah Dicekokin Hoaks!

Anak Menggunakan HP Orang Tua, Algoritma Menyimpan Jejak Kebiasaan

Salah satu persoalan yang kerap luput dari perhatian adalah penggunaan satu perangkat oleh beberapa anggota keluarga.

Seorang ibu, misalnya, memberikan telepon genggam kepada anaknya agar anak tenang ketika orang tua sedang mengerjakan sesuatu. Kebiasaan tersebut dapat dimengerti dalam kehidupan sehari-hari, tetapi risikonya muncul ketika perangkat yang sama memiliki riwayat tontonan orang dewasa.

Sistem rekomendasi dapat menggunakan berbagai sinyal aktivitas untuk menentukan konten yang ditampilkan kepada pengguna. Jika sebuah akun sebelumnya banyak berinteraksi dengan tayangan tertentu, konten serupa berpotensi kembali muncul dalam rekomendasi.

Akibatnya, anak yang menggunakan akun atau perangkat yang sama dapat menemukan tayangan yang tidak sesuai dengan usianya, meskipun ia tidak pernah secara sengaja mencarinya.

Persoalan lain muncul ketika anak membuat akun dengan mencantumkan usia atau identitas kakak, orang tua, maupun kerabat lain. Pembatasan usia menjadi lebih sulit diterapkan apabila informasi akun tidak mencerminkan pengguna sebenarnya.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa pembatasan akses berdasarkan usia tidak cukup jika hanya bergantung pada data yang dimasukkan ketika membuat akun. Pengawasan keluarga, pengaturan perangkat, dan tanggung jawab platform tetap diperlukan.

Komdigi telah mendorong pembatasan penggunaan media sosial bagi anak melalui PP TUNAS. Namun, penerapan regulasi tetap menghadapi tantangan ketika penggunaan akun bersama, ketidaksesuaian data usia, dan perilaku pengguna membuat pembatasan sulit berjalan secara efektif.

Orang tua tidak mungkin memeriksa setiap tayangan secara terus-menerus. Sebaliknya, platform juga tidak dapat hanya mengandalkan pengawasan keluarga tanpa memperhatikan bagaimana sistem rekomendasinya bekerja.

Diperlukan upaya bersama agar ruang digital lebih aman bagi anak, tanpa mengabaikan kebutuhan mereka untuk belajar dan mengenal teknologi.

Iklan Berbasis AI dan Risiko di Balik Konten Sensasional

Penelusuran di ruang digital juga menemukan iklan visual berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang menampilkan materi tidak senonoh dan mengarahkan pengguna ke layanan video tertentu.

Perkembangan teknologi memungkinkan materi promosi dibuat dengan cepat dan menggunakan visual yang menarik perhatian. Namun, kemudahan produksi tersebut juga menimbulkan persoalan ketika teknologi digunakan untuk memancing rasa penasaran melalui sensualitas atau gambaran yang tidak sesuai dengan kepatutan.

Persoalan lain muncul ketika promosi mengarahkan pengguna ke layanan berbayar yang mekanisme langganannya berpotensi merugikan.

Aplikasi seperti idrama.show terindikasi menimbulkan persoalan terkait skema berlangganan, khususnya pembaruan otomatis atau auto-renewal yang dinilai tidak disertai pilihan pembatalan atau unsubscribe yang jelas.

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena pengguna yang tertarik pada sebuah iklan belum tentu memahami seluruh ketentuan layanan yang ditawarkan. Ketika mekanisme pembayaran dan pembatalan tidak mudah dipahami, risiko kerugian finansial dapat meningkat.

Jangan Tukar Harga Diri demi Angka Views

Pengamat dan penggiat media sosial Dr. Ami Kamiludin menilai maraknya konten yang mengandalkan sensualitas sebagai persoalan yang patut disayangkan, terutama ketika kreativitas tidak lagi ditempatkan sebagai nilai utama.

Menurut dia, perkembangan teknologi dan kemudahan produksi seharusnya membuka ruang bagi karya yang lebih bermutu, bukan justru mendorong kreator mengandalkan jalan pintas untuk memperoleh perhatian.

“Viral itu sementara, tapi jejak digital dan pengaruh yang kita tinggalkan itu abadi. Jangan tukar harga diri dan kreativitasmu hanya demi angka views yang cepat hilang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menyoroti perbedaan antara popularitas sesaat dan nilai sebuah karya. Jumlah penayangan dapat berubah dengan cepat, sedangkan konten yang sudah tersebar berpotensi meninggalkan jejak digital yang sulit dikendalikan sepenuhnya.

Dr. Ami juga menekankan bahwa kreativitas tidak seharusnya diukur dari seberapa jauh seseorang bersedia mengorbankan kepatutan.

“Menjadi kreatif tidak harus menjadi murah. Tantangan terbesar kreator hari ini bukanlah menaklukkan algoritma, melainkan menjaga idealisme di tengah arus konten instan,” sambungnya.

Kreativitas dapat berkembang melalui komedi, drama, pendidikan, kritik sosial, dan berbagai bentuk hiburan lainnya. Tidak semua karya harus mengejar sensasi untuk memiliki nilai bagi penonton.

Tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan kualitas ketika perhatian publik menjadi sesuatu yang diperebutkan.

Melatih Algoritma dan Mengubah Kebiasaan Menonton

Mengurangi paparan konten yang tidak diinginkan dapat dimulai dari kebiasaan pengguna. Langkah ini tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan, tetapi dapat membantu mengendalikan rekomendasi dan mengurangi interaksi dengan tayangan yang dianggap tidak sesuai.

Pertama, segera lewati video yang tidak ingin dilihat. Hindari menonton berulang kali hanya karena penasaran atau ingin mengetahui bagaimana cerita berakhir. Pada sejumlah platform, durasi menonton dan interaksi dapat menjadi sinyal untuk rekomendasi berikutnya.

Kedua, gunakan pilihan “Tidak Tertarik” atau Not Interested jika tersedia. Fitur tersebut dapat membantu memberi sinyal bahwa pengguna tidak menginginkan rekomendasi serupa.

Ketiga, blokir akun dan laporkan konten yang dinilai melanggar panduan komunitas. Pelaporan dapat membantu platform meninjau konten berdasarkan aturan yang berlaku.

Keempat, aktifkan fitur seperti Restricted Mode atau Family Pairing pada platform yang menyediakannya, terutama jika perangkat digunakan oleh anak atau remaja. Pengaturan ini perlu disertai pendampingan dan pemeriksaan berkala.

Kelima, pisahkan akun orang dewasa dan anak jika memungkinkan. Hindari membiarkan anak menggunakan akun yang riwayat tontonan dan rekomendasinya didominasi konten untuk pengguna dewasa.

Terakhir, orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak mengenai tayangan yang mereka temui. Anak sebaiknya merasa aman untuk bertanya atau melaporkan konten yang membuatnya bingung, takut, atau tidak nyaman.

Upaya tersebut perlu dilengkapi tanggung jawab platform untuk menyediakan pengaturan yang mudah digunakan, sistem perlindungan anak yang memadai, serta mekanisme pelaporan yang dapat diakses.

Pengguna memang dapat mengubah kebiasaan digitalnya, tetapi beban menjaga ruang digital tidak seharusnya diletakkan hanya pada individu dan keluarga.

Mengembalikan Harga Diri ke Dalam Kreativitas

Ruang digital bukan hanya tempat untuk mengunggah video dan mengumpulkan penayangan. Ia juga menjadi ruang pertemuan nilai, gagasan, kebiasaan, dan cara masyarakat memandang satu sama lain.

Ketika konten yang mengandalkan sensasi terus memperoleh perhatian, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya mengapa kreator membuatnya, tetapi juga mengapa masyarakat terus memberikan panggung.

Kreator memiliki tanggung jawab terhadap pesan yang diproduksi. Platform memiliki tanggung jawab terhadap sistem distribusi dan perlindungan penggunanya. Penonton pun memiliki pilihan untuk menentukan konten mana yang ingin mereka dukung melalui perhatian dan interaksi.

Kebebasan berekspresi tetap penting, tetapi kebebasan tersebut tidak menghapus tanggung jawab atas dampak sosial dari sebuah karya. Kreativitas seharusnya memberikan ruang bagi gagasan baru, bukan hanya mencari cara paling cepat untuk memancing reaksi.

Pada akhirnya, persoalan algoritma bukan semata-mata tentang teknologi yang menentukan apa yang muncul di layar. Persoalan ini juga menyangkut pilihan manusia tentang apa yang dibuat, apa yang ditonton, apa yang dibagikan, dan apa yang dianggap layak mendapatkan perhatian.

Viralitas mungkin memberikan popularitas dalam waktu singkat. Namun, kreativitas yang memiliki nilai membutuhkan lebih dari sekadar angka penayangan.

Ruang digital yang sehat tidak dibangun hanya dengan menghapus konten yang bermasalah, tetapi juga dengan mengubah cara kita memberi perhatian. Ketika kreator menjaga idealisme, platform menjalankan tanggung jawabnya, dan penonton lebih sadar terhadap pilihan tontonan, peluang untuk membangun ekosistem digital yang lebih bermartabat akan semakin terbuka.

Sebab, pada akhirnya, harga sebuah karya tidak semestinya ditentukan hanya oleh seberapa banyak orang menontonnya, melainkan juga oleh nilai yang ditinggalkannya bagi orang lain.