Lensakabar.com, Bandung - Keluhan Thom Haye mengenai kondisi fasilitas dan padatnya agenda Persib Bandung memicu perbincangan di media sosial. Setelah Persib bermain imbang 2-2 melawan Dewa United pada 11 Oktober 2026, gelandang Persib itu menyoroti kondisi yang harus dihadapi tim di tengah tuntutan untuk terus tampil kompetitif.

Thom Haye mengungkapkan bahwa menjaga kebugaran pemain di setiap pertandingan menjadi tantangan tersendiri. Jadwal Persib juga bertambah dengan keikutsertaan di Shopee Cup, sementara tim masih harus menjalani perjalanan jauh dan tidak bermain di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) karena stadion tersebut sedang menjalani pemeliharaan.

Sorotan itu kemudian berkembang menjadi bahan olok-olok dan sindiran di media sosial. Perbincangan mengenai fasilitas Persib turut menyeret perbandingan dengan klub lain. Bahkan, klub yang belum merasakan gelar juara ikut menjadi bagian dari percakapan yang menyindir kondisi Maung Bandung.

Di tengah perbincangan tersebut, Adhitia Putra Herawan atau Kang Adhit, Deputy CEO Persib, memberikan jawaban dalam sebuah podcast. Ia menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas tidak bisa dilepaskan dari kondisi keuangan klub, termasuk pilihan antara mengeluarkan dana besar secara cepat atau membangun secara bertahap agar operasional klub tetap sehat.

Kang Adhit Ungkap Bayang-bayang Minus Rp100 Miliar

Dalam penjelasannya, Kang Adhit mengajak membayangkan kondisi keuangan klub apabila harus menanggung defisit hingga Rp100 miliar, sementara kewajiban membayar gaji pemain tetap berjalan.

“Bayangin deh dengan minus 100 miliar, nya naon? Hmm bayar gaji pemain lagi. Waswas anjir, duitnya ti mana?” ujar Kang Adhit dalam podcast tersebut.

Ia kemudian menyinggung kecintaan terhadap Persib yang membuat klub tetap bisa berjalan meskipun menghadapi tekanan finansial. Namun, menurutnya, persoalan yang perlu dipikirkan bukan hanya bagaimana klub bisa bertahan, melainkan bagaimana membangun sistem yang berkelanjutan.

“Minta ke pak Glen? Bisa, pak Glen itu sangat cinta sama Persib. Tapi apakah kita mau menjadi klub yang seperti itu atau kita mau jadi klub yang sustainable? Saya pengennya klub ini jadi sustainable,” katanya.

Kang Adhit menyebut pembenahan keuangan sebagai prioritas pada tahun pertama. Pilihan tersebut turut memengaruhi cara Persib mengembangkan fasilitas, yang menurutnya tidak bisa dilakukan sekaligus dengan pengeluaran besar tanpa memperhitungkan kemampuan klub.

“Makanya prioritas pertama di tahun pertama apa? Ngerapihin dulu keuangan,” lanjutnya.

Baca Juga: Hadapi Persik King Persib Waspada! Sergio Castel Bisa Jadi Ancaman

Jalan Pintas Bangun Fasilitas, tetapi Ada Konsekuensinya

Kang Adhit juga menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan membangun fasilitas secara cepat. Ia mengakui jalan pintas bisa ditempuh, termasuk melalui perubahan kepemilikan klub kepada pemodal dengan kemampuan finansial besar.

“Pertanyaannya ada nggak sih cara cepat buat bikin kayak gitu? Ada, shortcut-nya,” ucapnya.

Ia mencontohkan klub-klub besar Inggris seperti Manchester United, Manchester City, dan Liverpool, Cara cepatnya adalah dengan klub dijual kepada pemilik bermodal besar dari Arab. Dengan dukungan dana besar, pembangunan fasilitas dapat dilakukan lebih cepat. Namun, ia juga menyinggung konsekuensi terhadap kepemilikan dan kedekatan klub dengan daerah asalnya.

“Wah dibangun ini semua bisa, tapi yang punyanya bukan lagi orang Bandung,” kata Kang Adhit.

Menurutnya, perubahan kepemilikan semacam itu berpotensi memengaruhi kultur lokal yang selama ini melekat pada Persib. Ia kemudian menyebut Glenn Sugita dan Umuh Muchtar sebagai sosok yang memiliki kedekatan dengan Bandung.

“Itu yang kita teh harus bersyukur Pak Glen itu asli Bandung, Pak Umuh. Darahnya itu Bandung, dia berjuang setengah mati untuk Bandung,” ujarnya.

Kang Adhit menegaskan bahwa Persib hingga kini masih dimiliki dan dipegang oleh orang-orang yang berasal dari Bandung serta mencintai daerah tersebut. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjalankan pengelolaan klub secara sehat.

Tiga Gelar Beruntun Persib dan Sindiran soal Fasilitas

Lebih lanjut, Kang Adhit juga menyinggung pencapaian Persib yang meraih gelar juara liga domestik tiga musim berturut-turut, yakni 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026.

Ia menggambarkan pencapaian tiga gelar beruntun atau three-peat sebagai sesuatu yang layak diperhitungkan ketika Persib dibandingkan dengan klub lain. Menurutnya, pembicaraan mengenai fasilitas tidak seharusnya membuat pencapaian tersebut diabaikan.

“Tapi bayangin kita bisa dilelewe ku klub nu teu pernah juara tapi boga fasilitas? Paritnya kita di mana?” (Tapi bayangin kita bisa diledek oleh klub yang tidak pernah juara tapi punya fasilitas? Peringkat kita di mana?)ucap Kang Adhit.

Ia juga mempertanyakan apakah klub yang memiliki dana besar untuk membangun banyak lapangan otomatis mampu meraih gelar juara tiga kali berturut-turut.

“Orang boga 200 miliar, orang jien eta kabeh lapangan jadi lapangan peng alus-alus na. Tapi boga 200 miliar bisa hattrick teu?” (Orang punya 200 miliar, orang bikin semua lapangan itu jadi lapangan yang paling bagus. Tapi punya 200 miliar bisa hattrick nggak? ) katanya.

Pernyataan itu muncul ketika fasilitas Persib menjadi bahan perbandingan di media sosial. Di satu sisi, kondisi fasilitas dan tempat latihan menjadi sorotan setelah keluhan Thom Haye. Di sisi lain, Kang Adhit mengingatkan bahwa pencapaian olahraga dan kemampuan membangun fasilitas merupakan dua hal yang harus dikelola bersamaan tanpa mengabaikan kondisi keuangan klub.

Dilema Financial Fair Play, Infrastruktur Modern, dan Keberlanjutan Bisnis Industri Sepak Bola

Ketegangan antara pemenuhan fasilitas latihan kelas wahid dengan disiplin neraca keuangan merupakan ujian klasik bagi klub sepak bola profesional di era modern. Dalam regulasi lisensi klub (Club Licensing Regulation) yang ditetapkan AFC maupun PT Liga Indonesia Baru (LIB), aspek infrastruktur dan finansial berdiri sebagai dua pilar utama yang menentukan kelayakan partisipasi di tingkat kompetisi regional seperti Shopee Cup maupun AFC Champions League.

Keputusan manajemen Persib untuk memprioritaskan penyehatan arus kas (cash flow) guna mencegah defisit kronis mencerminkan prinsip kehati-hatian (prudential management) yang krusial agar klub tidak terjebak dalam krisis utang yang pernah menghancurkan sejumlah klub besar Indonesia pada masa lalu.

Meski demikian, keluhan pemain profesional kaliber internasional seperti Thom Haye menggarisbawahi pentingnya pusat pelatihan terpadu (training ground) dalam meminimalkan risiko cedera dan mempercepat proses pemulihan (recovery) pemain di tengah himpitan jadwal yang padat. Dalam industri sepak bola modern, ketersediaan lapangan latihan mandiri berperan langsung sebagai instrumen perlindungan aset bernilai tinggi, yakni kebugaran para pemain itu sendiri.

Investasi pada fasilitas latihan tidak lagi dipandang sebagai sekadar beban biaya (cost center), melainkan sebagai investasi jangka panjang yang memangkas pengeluaran medis sekaligus menjaga konsistensi performa di atas lapangan.

Sintesis antara prestasi olahraga seperti rekor three-peat gelar juara domestik dengan pengembangan kemandirian aset merupakan kunci utama menciptakan ekosistem sport tourism dan nilai komersial (brand equity) yang berkelanjutan.

Model pertumbuhan bertahap berbasis akar budaya lokal yang diusung manajemen Persib menjadi eksperimen penting di Liga 1 untuk membuktikan bahwa klub daerah sanggup mendominasi panggung juara tanpa harus mengorbankan kepemilikan lokal (local ownership) kepada investor asing. Keseimbangan inilah yang kelak menentukan apakah dominasi Persib dapat bertahan secara konsisten dalam jangka panjang di kancah nasional maupun Asia Pasifik.

Persib Punya Rencana, Pembangunan Dilakukan Bertahap

Kang Adhit memastikan bahwa pengembangan fasilitas Persib memiliki rencana, tetapi pelaksanaannya dilakukan secara bertahap. Ia mengingatkan kembali kondisi tim sekitar dua tahun sebelumnya ketika lokasi latihan masih berpindah-pindah antara Sidolig dan Arcamanik.

“Fasilitas itu pelan-pelan akan dilakukan, jangan mau ditukar dengan trofi gitu,” ujarnya.

Ia juga menyinggung beratnya perjuangan untuk meraih tiga gelar beruntun. Bagi Kang Adhit, pencapaian tersebut tidak datang dengan mudah dan menuntut kerja keras dari orang-orang di dalam klub.

“Tiga kali beruntun itu wah semua orang menderita loh dapetin itu. Ya capek gitu loh,” katanya.

Dengan demikian, jawaban Kang Adhit atas sorotan fasilitas Persib berpusat pada pilihan pengelolaan klub: membangun secara cepat dengan dukungan modal besar atau menjalankan pembangunan bertahap sambil menjaga kesehatan keuangan dan kepemilikan yang memiliki ikatan dengan Bandung.

Sementara itu, keluhan Thom Haye telah membuka perbincangan mengenai fasilitas yang dibutuhkan pemain Persib untuk menjalani kompetisi. Perdebatan di media sosial pun mempertemukan dua sorotan, yakni tuntutan terhadap fasilitas klub dan pencapaian Persib yang berhasil meraih tiga gelar liga secara beruntun.